SEJARAH BERDIRINYA KERAJAAN TURKI USMANI
A. SEJARAH BERIDIRINYA DINASTI
Di wilayah yang disebut dengan Turkistan
yang terbentang dari dataran tinggi Mongolia dan cina utara di bagia timur
hingga laut qazwin di sebelah barat, dan dari lembah Siberia di sebealah utara hingga
anak benua india dan Persia di sebelah selatan, ber diamlah suku al-ghizz(atau
oghus) dan kabilah kabilahnya yang besar. Mereka di kenal dengan sebutan turk.
Kabilah kabilah ini kemudian melakukan
migrasi besar besaran dari negrinya pada paruh kedua abad ke-6 m ke asia
tengah. Beberapa sejarawan menyebut beberapa sebab imigrasi itu. Sebagian
memandang bahwa kepindahan tersebut di dorong oleh adanya factor ekonomi,
kemarau Panjang, dan banyak keturunan mereka, telah menyebabkan mereka merasa
tidak nyaman berada di dalam negri asalnya, sehingga mereka melakukan imigrasi
untuk mencari rumput dan padang, serta kehidupan yang lebih baik.
Sedangkan Sebagian yang lain berpendapat,
migrasi itu terjadi karena factor politik, mengingat kabilah ini mendapat
ancaman yang begitu keras dari kabilah kabilah yang berjumlah besar dan dengan
kekuatan yang lebih besar pula, yaitu kabilah Mongolia. Tekanan inilah yang
memaksa mereka harus hijrah untuk mencari tempat lain dan mereka meninggalkan
tanah tempat tinggal mereka untuk mencari rasa aman dan tempat tinggal yang
mapan.
Kabilah migrasi ini terpaksa menuju ke arah
Barat dan berhenti di di pinggiran Thibristan sungai dan Jurjan. Jaihun, Dengan
kemudian demikian untuk beberapa merekadekatlama dengantinggal wilayah-wilayah
kekuasaan Islam yang sebelumnyaditaklukkan kaum muslimin, setelah peperangan
Nahawanddansetelahjatuhnya pemerintahan Sasanid di Persia padatahun21H/641M
(al-Shallabi, 2014: 13). Di bawah tekanan serangan Mongol pada abadke-13M,
mereka melarikan diri ke daerah barat dan mencaritempatpengungsian di
tengah-tengah saudara mereka, orang-orang Turki Saljuk, di dataran tinggi Asia
Kecil.
Di bawah pimpinan Ertoghul, mereka
mengabdikan dirikepada Sultan Alauddin II, Sultan Saljuk yang kebetulan sedang
berperang melawan Byzantium. Berkat bantuan mereka, Sultan Alauddin mendapat
kemenangan. Atas jasa baik itu, Sultan Alauddin menghadiahkan sebidang tanah di
Asia Kecil (sekarang Turki) yang berbatasan dengan Byzantium. Sejak itu mereka
terus membina wilayah barunya dan memilih kota Syuhud sebagai ibukota.
Ertoghul memiliki seorang putra bernama
Utsman yang kerap berdialog dengan seorang laki-laki shaleh. Dalam suatu
kunjungan ke rumahnya, Utsman tidak sengaja melihat putri laki-laki yang shaleh
itu. Rupanya si putri membuatnya tertarik. Utsman lantas meminta kepada si
laki-laki shaleh untuk menikahkannya dengan putrinya itu. Akan tetapi,
permintaan tersebut ditolaknya. Utsman sangat bersedih hati lantaran ditolak.
Pada suatu hari, ia bermimpi luar biasa. Begitu terjaga dari tidurnya, ia
langsung pergi menemul si laki-laki shaleh dan menceritakan mimpinya itu
kepadanya. Demi mendengar cerita itu, si laki-laki shaleh menyetujui keinginan
Utsman untuk menikahi putrinya.
Dalam mimpinya, Utsman melihat bulan terbit
dari dada si lakilaki shaleh dan berubah menjadi purnama, kemudian bulan
purnama Itu turun kedada Utsman.Lantas dari tulang sulbi Utsman keluar
sebatangpohonyang langsung tumbuh besar, sampai-sampai naungannyamenutupi
cakrawala menyeberangi pegunungan Kaukasus, Balkan, Taurus, dan Atlas. Dari
akar-akarnya pun mengalir keluar sungai Tigris, Eufrat, Nil, dan Danube (di
Balkan). la juga melihat dedaunan pohon ini berbentuk seperti pedang, ditiup
angin ke arah Kota Konstantinopel. Mendengar cerita mimpi Utsman ini,
silaki-lakishaleh pun mengharapkan nasib baik dan menikahkan putrinya dengan
Utsman. Mimpi ini memang kabar gembira baginya karena kelak keluarga Utsman
akan menjadi penguasa dunia (Tim Riset Mesir, 2013: 146).
Ketika Ertoghul meninggal dunia pada tahun
687 H, Utsman menggantikan posisinya. Hal pertama yang ia lakukan adalah
memperluas wilayah kekuasaan sukunya, tentu saja atas persetujuan Alauddin,
Amir Karaman. Pada tahun 699 H/1300 M, bangsa Mongol menyerang kerajaan Saljuk
dan Sultan Alauddin terbunuh. Kerajaan Saljuk Rum ini kemudian terpecah-pecah
dalam beberapa kerajaan kecil. Utsman kemudian menyatakan kemerdekaan dan
berkuasa penuh atas daerah yang didudukinya. Sejak itulah Kerajaan Utsmani
dinyatakan berdiri (Yatim, 2006: 130).
Utsman mendirikan Negara Utsmani yang dialamatkan kepada
namanya. Untuk itu, ia membuat suatu ibukota bagi negaranya, yaitu Kota Yenisehir,
yang berarti "kota baru" (tadinya bernama Eskisehir). la juga membuat
bendera negaranya yang sampai sekarang dipakai Negara Turki. Utsman pun
mengajak para amir Romawi Byzantium yang berada di Asia Kecil untuk masuk
Islam. Jika menolak maka mereka diharuskan membayar upeti (jizyah). Dan, jika
mereka menolak membayar jizyah, konsekuensinya mereka akan diperangi. Paraamir
Romawi Byzantium itu pun khawatir kehilangan kerajaan mereka, sehingga mereka
meminta bantuan Mongol untuk melawan Negara Utsmani. Hanya saja Utsman telah
mempersiapkan sekelompok pasukan di bawah komando Orkhan, putra keduanya. la
lantas memberangkatkan sang putra untuk memerangi Mongol. Orkhan pun dapat
mengobrak-abrik kekuatan Mongol. Sekembalinya pulang, ia menaklukkan kota Bursa
pada tahun 717 H seraya menjamin keamanan penduduknya. Karena diperlakukan
Orkhan dengan baik, mereka memberinya 30.000 keping uang emas. Sementara
penguasa kota itu, Evronos, langsung memeluk Islam. Jadilah ia salah satu
jenderal yang paling menonjol.
Utsman wafat pada tahun 726 H. sebelumnya
ia telah mewasiatkan tampuk kekuasaan bagi Orkhan, putranya. Utsman pun
dimakamkan di Kota Bursa. Selanjutnya kota tersebut dijadikan makam keluarga
Dinasti Usmani. Utsman memiliki gelar al-Ghazi yang bermakna al-mujahid
(pejuang). Gelar ini disandang Utsman sekaligus menjadi semboyannya, yaitu
"menjadi pejuang atau gugur sebagai syahid". Selanjutnya gelar
tersebut dipakai banyak sultan Negara Utsmani (Tim Riset Mesir, 2013: 147).
B. Para Penguasa Dinasti Usmani
Daulah
Utsmaniyah berkuasa sejak tahun 1281 M hingga1924 M. Dinasti Usmani (Ottoman)
tidak henti-hentinya berperang dan berjihad melawan para musuh Islam selama
lebih dari enam abad. Mereka berhasil menaklukkan Konstantinopel sementara umat
Islam sebelum mereka tidak dapat menaklukkannya. Mereka juga berhasil
menaklukkan negeri-negeri yang belum pernah diinjak seorang muslim pun
sebelumnya. Berbagai penaklukan mereka membentang ke jantung Eropa. Mereka
menaklukkan Yunani, Yugoslavia (kini Serbia dan Montenegro), Bosnia dan
Herzegovina, Albania, Makedonia, Bulgaria, Rumania, Magyar (Hungaria),
Bessarabia (Moldavia), Ukrania, dan Siprus. Juga, banyak wilayah Rusia,
Austria, Polandia, Slovakia, dan Italia. Mereka berhasil pula menaklukkan
wilayah-wilayah Asia Kecil lainnya (kini Turki), Armenia, Georgia, dan seluruh
negeri Kaukasia. Penaklukan mereka baru terhenti di depan tembok-tembok Vienna
(Tim Riset Mesir, 2013: 137)
Para penguasa dinasti Usmani di turki adalah
sebagai berikut :
Osman I
(1299-1324)
Orhan I (1324-1362)
Murad I (1362-1389)
Bayezid I (1389-1402)
Mehmed I (1413-1421)
Murad II (1421-1444)
Mehmed II (1444-1446)
Bayezid II (1481-1512)
Selim I (1512-1520)
Suleiman I (1520-1566)
Selim II (1566-1574)
Murad III (1574-1595)
Mehmed III (1595-1603)
Ahmed I
(1603-1617)
Mustafa I
(1617-1618)
Osman II (1618-1622)
Murad IV (1622-1623)
Ibrahim I (1640-1648)
Mehmed IV (1648-1687)
Suleiman II (1687-1691)
Ahmed II
(1691-1695)
Mustafa II
(1695-1703)
Ahmed III
(1703-1730)
Mahmud I
(1730-1754)
Osman III
(1754-1757)
Mustafa III (1757-1774)
Abdul Hamid I (1774-1789)
Selim III (1789-1807)
Mustafa IV (1807-1808)
Mahmud II (1808-1839)
Abdul Mejid
I (1839-1861)
Abdul Aziz I (1861-1876)
Murad V (1876-1876)
Abdul Hamid
II (1876-1909)
Mehmed V (1909-1918)
Mehmed VI (1918-1922)
Penguasa pertama adalah Utsman yang disebut
juga dengan Utsman I. setelah Utsman I mengumumkan dirinya sebagai Padisyah
al-Utsman (raja besar keluarga Utsman), setapak demi setapak wilayah kerajaan
dapat diperluasnya. la menyerang daerah perbatasan Byzantium dan menaklukkan
Kota Broessa tahun 1317 M, kemudian tahun 1326 M dijadikan sebagai ibukota
kerajaan Turki Usmani.
Pada masa pemerintahan Orkhan, Turki Usmani
dapat menaklukkan Azumia (1327 M), Tasasyani (1330 M), Uskandar (1328 M),
Ankara (1354 M), Gallipoli (1356 M). Daerah ini adalah bagian bumi Eropa yang
pertama kali diduduki Kerajaan Usmani.
Ketika Murad I berkuasa, selain memantapkan
keamanan dalam negeri, ia melakukan perluasan daerah ke benua Eropa. Ia dapat
menaklukkan Adrianopel, Macedonia, Sopia, Salonia, dan seluruh wilayah bagian
utara Yuanni. Merasa cemas terhadap kemajuan ekspansi kerajaan ini ke Eropa,
Paus mengobarkan semangat perang. Sejumlah besar pasukan sekutu Eropa disiapkan
untuk memukul mundur Turki Usmani. Pasukan ini dipimpin oleh Sijisman, raja
Hongaria. Namun sultan Bayazid I, pengganti Murad I dapat menghancurkan pasukan
sekutu Kristen Eropa tersebut. Peristiwa ini merupakan catatan sejarah yang
sangat gemilang bagi umat Islam.
Turki Usmani mencapai kegemilangannya pada
saat kerajaan ini dapat menaklukkan pusat peradaban dan pusat agama Nasrani di
Byzantium, yaitu Konstantinopel. Sultan Muhammad II yang dikenal dengan Sultan
Muhammad al-Fatih dapat mengalahkan Byzantium dan menaklukkan Konstantinopel
pada tahun 1453 M. Telah berulang kali pasukan Muslim sejak masa Dinasti
Umayyah berusaha menaklukkan Konstantinopel, tetapi selalu gagal karena
kokohnya benteng di kota tua itu.
Dengan terbukanya Kota Konstantinopel
sebagai benteng pertahanan terkuat Kerajaan Byzantium, lebih memudahkan arus
ekspansi Turki Usmani ke benua Eropa. Dan wilayah Eropa bagian timur semakin
terancam oleh Turki Usmani karena ekspansi Turki Usmani
juga
dilakukan ke wilayah ini, bahkan sampai ke pintu gerbang Kota Wina, Austria.
Akan tetapi, ketika Sultan Salim I naik
tahta, ia mengalihkan perhatian kea rah timur dengan menaklukkan Persia,
Syiria, dan Dinasti Mamalik di Mesir. Usaha Sultan Salim ini dikembangkan oleh
Sultan Sulaiman al-Qanuni. Sulaiman berhasil menundukkan Irak, Belgrado, Pulau
Rhodes, Tunis, Budhapest, dan Yaman. Dengan demikian, luas wilayah Turki Usmani
pada masa Sultan Sulaiman al-Qanuni mencakup Asia Kecil, Armenia, Irak, Hijaz,
Syiria, Hijaz, dan Yaman di Asia. Mesir, Libia, Tunis, dan Aljazair di Afrika.
Bulgaria, Yunani, Yugoslavia, Albania, Hongaria, dan Rumania di Eropa.
Setelah sultan Sulaiman meninggal dunia,
terjadilah perebutan kekuasaan antara putra-putranya, yang menyebabkan Kerajaan
Turki Usmani mundur. Akan tetapi, meskipun mengalami kemunduran, kerajaan ini
untuk masa beberapa abad masih dipandang sebagai negara yang kuat, terutama
dalam bidang militer. Hingga akhirnya runtuh pada tahun 1924 M (Amin, 2015:
196-197).
C. Peradaban Pada Masa Dinasti Usmani
Sejak masa usman bin ertoghul, yang
dianggap pendiri pertama kerjaan turki Usmani atau impremium ottoman, timbulah
kemajuan dalam berbagai bidang agama
islam. Turki membawa pengaruh cukup baik dalam bidang ekspansi agama islam ke
eropa. Kemajuan lainnya antara lain dalam bidang militer dan pemerintahan,
bidang ilmu pengetahuan dan budaya, serta dalam bidang keagamaan. Dalam
perkembangan turki cukup berpengaruh dalam bidang peradaban islam, dengan corak
peradaban yang khas. Pengaruh budaya tersebut sampai ke berbagai wilayah turki
Usmani yang wilyah nya begitu luas dalam dunia islam.
1. Bidang Pemerintah Dan Militer
Para pemimpin
kerajaan Usmani pada masa-masa pertama dalahorang-orangyangkuat, sehingga
kerajaan dapat melakukan okspansidengancepatdanluas.Meskipun demikian, kemajuan
kerajaan UIsmanisehinggamencapai masa keemasan, bukan semata-mata karena keuggulan
politik para pemimpinnya. Masih banyak faktor Jainyangmendukung keberhasilan
ekspansi itu. Yang terpenting di antaranya adalah keberanian, keterampilan,
ketangguhan dan kekuatan militernya yang sanggup bertempur kapan saja.
Kekuatan militer kerajaan ini mulai
diorganisasi dengan baik danteraturketika terjadi kontak senjata dengan Eropa.
Pengorganisasian yang baik dan strategi tempur militer Usmani berlangsung
dengan baik.Pembaruan dalam tubuh organisasi militer oleh Orkhan sangat berarti
bagi pembaruan militer Turki. Bangsa-bangsa non-Turki dimasukkan sebagai anggota,
bahkan anak-anak Kristen yang masih kecil diasramakan dan dibimbing dalam
suasana Islam untuk dijadikan prajurit.
Program ini ternyata berhasil dengan
terbentuknya kelompok militer baru yang disebut pasukan Yenisseri atau
inkisariyah. Pasukan inilah yang dapat mengubah kerajaan Usmani menjadi mesin
perang yang paling kuat negeri-negeri dan memberikan nonmuslim dorongan di
Timur yang yang berhasil dengan sukses.
Di samping Yenisseri, ada lagi prajurit
dari tentara kaum feodal dikirim kepada pemerintah pusat. Pasukan ini disebut
tentara kelompok militer Thaujiah.Angkatan laut pun dibenahi, karena ia
memiliki peranan yang besar dalam perjalanan ekspansi Turki Usmani. Pada abad
ke-16 angkatan laut Turki Usmani mencapai puncak kejayaannya. Kekuatan militer
Turki Usmani yang tangguh itu dengan cepat dapat menguasai wilayah yang sangat
luas, baik di Asia, Afrika, maupun Eropa. Faktor utama yang mendorong kemajuan
di lapangan militer ini ialah tabiat bangsa Turki itu sendiri yang bersifat
militer, berdisiplin, dan patuh terhadap peraturan. Tabiat ini merupakan tabiat
alami yang mereka warisi dari nenek moyangnya di Asia Tengah.
Keberhasilan ekspansi tersebut dibarengi
pula dengan terciptanya jaringan pemerintahan yang teratur. Dalam mengelola
pemerintahan yang luas, sultan-sultan Turki Usmani senantiasa bertindak tegas.
Dalam struktur pemerintahan, Sultan sebagai penguasa tertinggi, dibantu oleh
Shadr al-A'dzam (perdana menteri) yang membawahi Pasya (gubernur). Gubernur
mengepalai daerah tingkat I. Di bawahnya terdapat beberapa orang al-Zanaziq
atau al-Alawiyah (bupati).
Untuk mengatur urusan pemerintahan negara,
di masa Sultan Sulaiman I disusun sebuah kitab Undang-undang (qanun). Kitab
tersebut diberi nama multaqa al-Abhur, yang menjadi pegangan hukum bagi
kerajaan Turki Usmani sampai datangnya reformasi pada abad ke-19. Karena jasa
Sultan Sulaiman I yang amat berharga ini, diujung namanya ditambah gelar Sultan
Sulaiman al-Qanuni.
Kemajuan dalam bidang kemiliteran dan
pemerintahan ini membawa Dinasti Turki Usmani mampu membawa Turki Usmani
menjadi sebuah negara yang cukup disegani pada masa kejayaaannya (Amin, 2015:
200-201).
2. Bidang Ilmu Pengetahuan
Peradaban Turki Usmani merupakan perpaduan
bermacammacam peradaban, di antaranya adalah peradaban Persia, Byzantium, dan
Arab. Dari peradaban Persia, mereka banyak mengambil ajaranajaran tentang etika
dan tata krama dalam istana raja-raja. Organisasi pemerintahan dan kemiliteran
banyak mereka serap dari Byzantium. Sedangkan ajaran tentang prinsip-prinsip
ekonomi, sosial, kemasyarakatan, dan keilmuan mereka terima dari orang-orang
Turki Usmani yang dikenal sebagai bangsa yang senang dan mudah berasimilasi
dengan bangsa asing dan terbuka untuk menerima kebudayaan dari luar.
Sebagai bangsa yang berdarah militer, Turki
Usmani lebih banyak memfokuskan kegiatan mereka dalam bidang kemiliteran,
sementara dalam bidang ilmu pengetahuan mereka tampak tidak begitu menonjol.
Karena itulah dalam khazanah intelektual Islam kita tidak menemukan ilmuwan
terkemuka dari Turki Usmani (Amin, 2015: 202)
3. Bidang Keagamaan
Dalam tradisi masyarakat Turki, agama merupakan sebuah faktor
penting dalam transformasi sosial dan politik seluruh masyarakat. Masyarakat
digolongkan berdasarkan agama, dan kerajaan sendiri sangat terikat dengan
syariat sehingga fatwa ulama menjadi hukum yang berlaku. Ulama memiliki peranan
penting dalam kerajaan dan masyarakat. Mufti sebagai pejabat urusan agama
tertinggi berwenang memberi fatwa resmi terhadap problema keagamaan yang
dihadapi masyarakat. Tanpa legitimasi mufti, keputusan hukum kerajaan bisa
tidak berjalan (Yatim, 2006: 137).
Kehidupan keagamaan pada masyarakat Turki
Usmani mengalami kemajuan, termasuk dalam hal ini adalah kehidupan tarekat.
Tarekat yang berkembang ialah Tarekat Bektasyi, dan Tarekat Maulawi. Kedua
tarekat ini banyak dianut oleh kalangan sipil dan militer. Tarekat Bektasyi
memiliki pengaruh yang sangat dominant di kalangan Yenisseri, sehingga mereka
sering disebut tentara Bektasyi. Sementara tarekat Maulawi mendapat dukungan
dari para penguasa dalam mengimbangi Yenisseri Bektasyi.
Kajian mengenai ilmu-ilmu keagamaan Islam,
seperti fikih, ilmu kalam, tafsir dan hadits boleh dikatakan tidak mengalami
perkembangan yang berarti. Para penguasa lebih cenderung untuk menegakkan satu
faham (madzhab) keagamaan dan menekan madzhab lainnya. Sultan Abdul Hamid
misalnya, begitu fanatik terhadap aliran al-Asy'ariyah. la merasa perlu
mempertahankan aliran tersebut dari kritikan aliran lain. Sultan memerintahkan
kepada Syekh Husein al-Jisr al-Tharablusi menulis kitab al-Husun al-Hamidiyah
(benteng pertahanan Abdul Hamid), yang mengupas masalah ilmu kalam untuk
melestarikan aliran yang dianutnya. Akibat kelesuan di bidang ilmu keagamaan
dan fanatik yang berlebihan maka ijtihad tidak berkembang. Ulama hanya menulis
buku dalam bentuk syarah (penjelasan) dan hasyiyah (semacam catatan) terhadap
karya-karya klasik (Amin, 2015: 204)
D. Masa Kemunduran Dinasti Usmani
Daulah Usmani merupakan kerajaan yang maju pada saat itu.
Kerajaa ini sangat berperan pentung pada
peradaban islam terutama pada penyebar luasan wilayah dibenua eropa. Dahulu kerajaan ini lebih
menyebar kekuasaan pada keluasan wilayah eropa timur yang mana pada saat itu
masyarakat masih belum memeluk agama islam. Tp dibantu dengan berkembangnya
peradaban islam mulai dari pengetahuan, kebudayaan dll selaian politik maka penyebar luasan
wilayah islam berjalan dengan sempurna bahkan lebih berkembang dari pada perkembangan
politik. Dilihat dari kemajuan itulah
banyak negri yang ditaklukan dengan daylah usmanii banyak yang melepaskan
wilayah-wilayahnya dalan artian
menyerakhan diri dan ahirnya kerajaan ini memiliki perluasaan diberbagai
wilayah tetapi kondisi masyarakat pada saat itu tidak sepenuhnya memeluk
islam.
Ketika sebuah kerajaan mengalami kemajuan maka lambat laun
pasti akan mengalami kemunduran juga. Tidak dapat dipungkiri kemunduran daulah
ini disebabkan faktor dari dalam dan luar. Hingga prosea jatuhnya kemu
kemunduran dimulai dari sultan sulaiman I sampai pengganti penggati berikutnya
dan berlangsung sangat lama kurang lebih 3 abad lamanya. Yang tidak dapat lagi
dibenahi dan diperbaiki karna pada waktu itu faktor utamanya bermula dari
keadaan pemerintahan daulah itu sendiri yang ahirnya dibuat kesempatan oleh
kerajaan lain untuk meruntuhkan daulah usmani.
Turki Usmani merupakan kerjaan besar pada saat itu. Banyak
kerjaana yang tunduk dan takut pada daulah ini karena memiliki banyak perluasan
wilayah dan bahkan pada saat itu eropa sangat segan untuk melawan, menyerang
kekuasaan usmani atau yang wilayahnya berada
ditangan kekuasaan daulah usmni. Tapi sebaliknya turki usmani juga
enggean menyerang eropa dan merebut kekuasaannya karena eropa memiliki kekuatan
besar pada bidang teknologi militer dan industri perang yang membuat turki masi
berpikir dua kali untuk menyerang ahirnya dari sudut pandang eropa membuat
turki usmani lemah dihadapan bangsa eropa. Tetapi pada satu kejadian yang
membuat benar benar turki usmani inu mengalami kemunduran dan membuka peluang
barat untuk menyerang dan mengklaim bahwa kerajaan ini benar pada ujung
kemunduruan. Pada tahun 1683 M kerajaan ini mengalami kekalahan pada saat
menghadapi serangan dari eropaa di winaa ahirnya sejak itulah usmani mulai
diserang oleh bangsaa barat.
Semenjak kejadian itu yang menyebabkan usmani
kalah dalam peperangan usmani sadar bahwasanya kerajaannya sedang pada masa
masa kemunduran. Sadar akan kemunduran dan kehancuran maka pembaharuan dan
perkembangan mulai dilakukan oleh pemimpin. Mulai dari hal kecil dulu yaitu
mengirim para dutaa k negara eropa terytama pranciss untuk mempelajaru dan
menelaah perkembangan dan kemajuan yang ad disana. Kemajuan teknik, teknologi,
organisassi angkatan peperangan serta lembaga yang sedang berkembang disana.
Dari hal inilah membuat sultan ahmad III memluai pembaharuan krn mengetahui
kemajuan dari kerajaan lain. Sultan ahmad ahirnya mendatangkan ahli militer
dari eripa untuk pembaharuan dan kemajuan dikerajaan usmani. Ahirnya tahun 1734
M sekolah teknik militer di daulah usamani dibuaka untuk pertama kalinya. Tidak hanya dalam militer saha bahkan dalam
kemajuan dibidang lain juga dilakukan seperti pengetahuan dan pembukuan
sehingga munculah penerjemah buku eropa kedalam bahasa turkii.
Tetapi usaha itu kenyataannya tidak banyak
membuahkan hasil dan mencegah kemajuan kerjaan daulah usmanii yang terus
menerus mengalami kemunduran yang sangat merosot dan menghawatirkan. Karena
pembaharuan yang dilakukan tidak mendapat persetujuan dari para ulama dan
tentara jenissary yang menguasai pokitik dikerajaan tersebut. Disisi lain
penyebab kegagalaan itu adalah masalah keuangan yang mengalami kekurangan dana
untuk biaya pembaharuan dari bidang keilmuan bahkan militer yang sangat membutuhkan
dana besar. Kerajaan daulah usmani mengalami masa kebangkrutan dalam bidang
keuangan ditambah dengan melemahnya
kekuatan keputusan wewenang daru raja raja turki usmani. Dari kejadian itu
sudah membuat kerajaan ini terus saja mendekati jurang kehancuran dan bisa
dikatakan sudah mengalami kemunduran, ditambah ancaman yang semakin besar dari
barat yang membuat tidak ada lagi harapan.
Kerajaan ini tidak gampang putus saja,
sulatan mahmud II mrngambil tindakan untuk mengatasu masalah itu yaitu dengan
cara membubarkan tentara jenissary yang menuutnya membuat penghambatan dalam
kemajuan dan pembaharuaan. Semua
dibenahi oleh sultaan nahmud II mulai dari sistem kekuasaan, politk, buku semua
diterjema kedalam bahasa turki dan bahkan siswa yang memiliki intelektual
tinggu dn daya oikir yang tajam dikirim keeropa untuk belajar dan memajukan
kerjaan turki terutama dalambidang kemiliteran. Tapi tetap saja usaha kemajuan
tidak banyak membuahkan hasill dan masi membuat barat tidak berhenti mengobrak
abrik dunua islam.
Mundurnya Daulah Usmani ditandai
dengan kebangkitan bangsa Barat atau Eropa, hal ini disebabkan karena lemahnya
penguasa Daulah Usmani dan lemahnya sistem pemerintahan. Terbukti pada saat
setelah pemerintahan sultan sulaiman I wafat pengganti pengganti untuk pemimpin
daulah usmani ini tidak ada yang benar dan mengalami kemerosotan dalam berbagai
bidang dan ahirnya tidak terkontrol seperti halnya semula. Pada saat itu
penggati pemimpin mengalami hubbud dunia atau cinta dunia hal inilah yang
memicu kehancuran pemerintahan daulah usmani.
Runtuhnya
Daulah Usmani setidaknya disebabkan oleh faktor-faktor sebagai berikut :
1. Kondisi pemerintahan yang lemah dan
kemerosotan akhlak para pemimpin Daulah Usmani. Kemunduran Daulah Usmani
dimulai ketika para pemimpin dijangkiti penyakit yang menyerang bangsa-bangsa
sebelumnya. Cinta dunia, pola hidup mewah dan berfoya-foya, sikap iri hati,
saling membenci (hasud), dan banyak perilaku dhalim dari penguasa. Banyak
masyarakat yang terlena dengan gemerlap dunia namun banyak juga yang merana dan
terbelenggu dalam jurang kemiskinan. Sehingga lambat laun, banyak yang
meninggalkan nilai-nila agama dan sosial.
Komentar
Posting Komentar